Rencana Pembangunan Masjid Akmaliah

Rencana Pembangunan Masjid Akmaliah
Pembangunan Masjid Akmaliah Kedepan

Selasa, 21 April 2015

MUHASABAH DIRI



 Teman... , Saudara - saudaraku mari...

Berhenti sejenak dalam kehidupan bukan berarti menyerah dalam menjalaninya, akan tetapi terkadang diri ini , tubuh ini perlu di "refresh" sejenak agar mampu mengevaluasi, apa-apa saja yang telah kita lakukan selama ini, apakah banyak kebaikan atau keburukan?
.
Mari  ambilah selembar kertas, dan alat tulis masing – masing.

Tuliskan nama Anda dengan lengkap, bukan nama panggilan. Perhatikanlah nama itu dengan baik, tataplah... Kelak nama ini akan tertulis pada batu nisanmu.

Di bawahnya tulislah nama ibumu, ibundamu yang kau cintai. Yang telah mengandungmu di dalam rahimnya, melahirkanmu, dan mengasuhmu hingga engkau dewasa.

Selanjutnya tulislah nama ayahmu, seorang laki – laki yang telah berjalan jauh, membanting tulang mencari sesuap nasi, untuk menghidupi keluarganya.

Di bawahnya tulislah nama istri atau nama suamimu, orang yang telah dijodohkan Tuhan untuk menjadi pendampingmu, untuk selama – selamanya.

Di bawahnya lagi, tulislah nama anak – anakmu yang kau cintai, permata – mata hatimu, yang telah diamanahkan Tuhan kepadamu.

Marilah  kita tundukan kepala, kemudian pejamkanlah mata, rasakanlah ketenangan... rasakanlah ketenangan itu lebih dalam lagi. Bayangkan seakan – akan kita sedang berjalan di suatu jalan yang lurus, lurus sekali... Dan di ujung jalan itu ada sebuah rumah... di sudut ruang dalam rumah itu, ada sebuah kursi, di atas kursi itu duduk seorang wanita, kita pandangi wajah wanita itu, ternyata dia adalah ibumu, ibumu yang tercinta. Dialah seorang wanita yang telah mengandungmu di dalam rahimnnya selama 9 bulan 10 hari. Dan ketika melahirkanmu ia berjuang antara hidup dan mati, menahan sakit, dan bersimbah darah ketika menghadirkanmu ke dunia. Pandangilah lagi wajah ibumu, yang kini telah nampak semakin tua.

Di samping ibumu, duduk seorang lki – laki, yang telah lanjut usia, itulah ayahandamu tercinta. Seorang laki – laki yang telah berjalan jauh, bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Dan sewaktu engkau masih kecil, dia juga sering mengendongmu, meninabobokanmu. Sehingga engkau sering tertidur di pundaknya yang bidang. Tetapi laki – laki itu kini sudah semakin tua, tinggal gurat – gurat diwajahnya yang keletihan, namun dia adalah seorang laki –laki yang bertanggung jawab dan berjasa kepada keluarganya.

Apa yang telah engkau lakukan kepada orang tuamu. Engkau kini mungkin sering melupakannya. Bahkan mungkin kini, kedua orang tuamu telah tiada. Berdoa untuk keduanya, engkau pun mungkin sering melupakannya. Ya Allah yang Maha Besar, ampunilah dosa – dosaku, ampunilah dosa –dosaku, ampunilah segala kelalaianku. Mereka adalah orang – orang yang paling berjasa dalam hidupku, mengapa ya Allah, aku menjadi orang yang sering melupakannya. 

"Relakah kita orang tua kita disiksa, karena lalainya kita sebagai anak (gemar bermaksiat), sudah cukup susah payah lah beliau di dunia, tapi yang kita berikan belumlah terbayar di dunia, masih kita berikan pemberat dosa untuk beliau dengan bermaksiat kepada Allah...

Astagfirullah al`adzim. Ampunilah ya Allah kedua orang tuaku, tempatkanlah keduanya ya Allah di tempat yang terbaik disisi-Mu. Allahumagfir li,wa liwaalidaya warhamhumaa kamaa robayani shoghiiroo. Ya Allah ampunilah aku, dan ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah mereka ya Allah, sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil....

baca selengkapnya »»  

KAROMAH TUBUH


Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya. (Hadits Qudsi)
Dalam kitab al-Futuhat, Ibnu ‘Arabi menyebutkan kitabnya yang berjudul Mawaqi’ al-Nujum, yang sering dipujinya sebagai kitab yang sangat bagus dalam mengupas masalah karomah yang muncul dari anggota-anggota tubuh yang taat. Anggota tubuh itu adalah mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, kaki, dan hati. Apabila masing-masing anggota tubuh menaati hukum syara’ dan dilakukan oleh orang yang bertanggung jawab, maka akan muncul karomah. Dalam kitab tersebut disebutkan berbagai pengetahuan, rahasia ilmu hakikat, dan manfaat ilmu syariat. Saya berusaha meringkas sedikit tentang delapan anggota tubuh dan karomah yang muncul dari nggota tubuh sebagai upaya untuk menyempurnakan manfaat dan untuk mencapai tujuan kami. Dan karena Imam al-Munawi tidak menguraikan arti dari karomah yang muncul dari anggota-anggota tubuh yang taat, dalam penjelasan sebelumnya yang diambil dari kitab Mawaqi’ al-Nujum,
1. Mata
Di antara karomah mata jika digunakan untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan adalah mampu melihat tamu dari jarak jauh sebelum ia datang, bisa melihat dari balik dinding tebal, melihat Ka’bah ketika shalat, dan lain-lain. Di antara karamoh lainnya adalah dapat menyaksikan alam malakut spiritual baik malaikat, penghuni ketinggian (mala’ul a’la), jin, Nabi Khidir, dan para Abdal.

2. Telinga
Bila telinga digunakan untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, karamoh yang akan muncul adalah mendengar kabar gembira bahwa sang pemiliknya merupakan salah seorang yang diberi hidayah dan akal oleh Allah. Ini merupakan karamah terbesar, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, Sebab itu sampaikanlah kabar kembira kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya (QS Al-Zumar [39]: 17-18).
Karamah lainnya adalah dapat mendengar ucapan benda mati, sehingga terdengar semua benda bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang jelas, sebagaimana bahasa manusia.
BERSAMBUNG

baca selengkapnya »»  

Sabtu, 10 Januari 2015

12 Januari 2015 Rapat Pembentukan Panitia Pemilihan DKM Masjid Akmaliah

Pada hari Sabtu, malam Minggu, pengurus masjid Akmaliah mengadakan rapat. Dalam undangan rapat tersebut ada 3 agenda pokok yaritu :
1. Perubahan AD/ART masjid Akmaliah
2. Pembentukan Panitia Pe,iliham DKM Masjid Akmaliah
3. Pembentukan Panitia pembangunan Masjid Akmaliah

Rapat di milai ba'da sholat Isya, yang dibuka oleh sekretaris masjid Akmaliah yaitu Bapak Samiyana. Kemudian jalanya rapat di pimpin langsung oleh ketua DKM Bapak Ahmad Safei. Dari perjalanan rapat , yang semula akan dibahas 2 agenda, akhirnya hanya satu agenda yang dilaksanakan, karena waktu tidak mencukupi.

Dari hasil rapat, kemudian terbentuklan Team 7 yang beranggotakan 7 orang yang tugasnya membuat rancangan draft perubahan AD/ART. Anggota dari Team 7 tersebut adalah : Ustad Endang Mulyadi, Ustad Ahdi, Ustad Choirul Saleh, bapak Subhan, bapak Alwi, bapak Jupri, Ustad Hadianto.  Team 7 mempunyai waktu sekitar 2 mingguan untuk merumuskan draft perubahan AD/ART tersebut. Yang mana draft tersebut nantinya akan di saring dan dibicarakan didalam rapat pleno yang akan dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2015.
baca selengkapnya »»  

Sabtu, 03 Januari 2015

Saat Rosulullah Menjelang Ajal

Kata Ibnu Mas’ud: “Tatkala Rasullulah s.a.w., telah mendekati ajalnya Beliau mengumpulkan kami sekalian di kediaman Aisyah ra. Kemudian beliau memperhatikan kami sekalian sehingga berderailah air matanya dan, Beliau bersabda: “Selamat datang untuk kamu sekalian, dan mudah-mudahan kamu sekalian di balas-kasihani Allah. Saya berwasiat supaya kamu sekalian bertaqwa kepada Allah serta mentaati-Nya. Sesungguhnya telah dekat perpisahan di antara kita, dan telah pula saat kembali pulang kepada Allah Taala dan menempati sorga-Nya.. Kalau telah datang saat ajalku, hendaklah Ali yang memandikan ku, Fadhal bin Abbas yang menuangkan air dan Usamah bin Zaid yang bertindak menolong keduanya. Lalu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri bila itu kamu semua kehendaki atau dengan kain Yaman yang putih. Bila kamu sekalian akan memandikan aku, maka letakkanlah aku di atas balai tempat tidur ku di rumah ku ini.dekat dengan liang lahad ku. Sesudah itu keluarlah kamu sekalian barang sejenak meninggalkan aku. Pertama-tama yang menyalatkan aku adalah Allah ‘Azza Wa Jalla. Kemudian Malaikat Jibril, kemudian Malaikat Israil, lalu Malaikat Mikail, kemudian Malaikat pencabut nyawa (Malaikat Izrail) beserta para pembantunya, selanjutnya semua Malaikat. Setelah itu masuklah kamu sekalian dengan berkelompok-kelompok dan lakukan shalat untuk ku”

Setelah mendengar ucapan perpisahan Nabi saw mereka (para Sahabat) saling menangis seraya berkata, ” Wahai Rasullullah engkau adalah seorang utusan untuk kami sekalian, menjadi kekuatan dalam pertemuan kami dan selaku penguasa yang mengurus perkara kami, bilamana engkau telah pergi, kepada siapakah kami kembali dalam segala persoalan?”

Rasullullah saw bersabda: “Telah ku tinggalkan padamu sekalian pada jalan yang benar dan di atas jalan yang terang dan telah ku tinggalkan pula untuk kamu sekalian dua penasehat yang satu pandai berbicara dan yang satu diam saja. Yang pandai bicara adalah Al-Quran dan yang diam saja adalah Ajal (maut). Apabila ada persoalan yang sulit bagimu, maka kembalilah kamu sekalian kepada Al-Quran dan Sunahku dan kalau hatimu keras membatu, maka lunaklah dia dengan mengingat tentang mati.”

Setelah itu, maka Rasullullah saw, menderita sakit, mulai akhir bulan Safar selama 18 hari dan sudah sering di tengok oleh para sahabat. Sedang penyakit yang di derita mulai pertama kali sampai akhir hayatnya adalah pusing kepala. Rasullullah saw mulai di utus pada hari Senin dan wafatnya pun pada hari Senin juga. Tatkala pada Senin, penyakitnya bertambah berat, maka setelah Bilal selesai Adzan Subuh , dia menghampiri pintu rumah Rasullullah saw sambil mengucapkan salam: “Assalamu ‘ alaika ya Rasullullah!” Fatimah menjawab: “wa’alaikassalam” lalu berkata: “Rasullullah masih sibuk dengan dirinya sendiri”

Bilal terus masuk ke masjid dan dia tidak memahami makna kata-kata Fatimah. Ketika waktu subuh semangkin terang. Bilal datang kembali menghampiri pintu rumah Rasullullah saw dan mengucapkan salam seperti semula dan Rasullulah saw yang mendengar suara Bilal itu, maka beliau bersabda: “Masuklah Hai Bilal, sungguh aku dalam keadaan sibuk mengurus diriku sendiri dan penyakitku rasa-rasanya bertambah-tanbah berat. Maka suruhlah Abu Bakar agar shalat berjemaah dengan orang-orang yang hadir”

Bilal pun keluar sambil menangis dan meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya mengeluh: “Aduhai musibah, susah sungguh, harapan terputus, telah terpenggal hilang sasaran tujuan, seandainya ibuku tidak melahirkan aku”

Bilal terus masuk masjid seraya berkata: “Hai sahabat Abu Bakar, sesungguhnya Rasullullah menyuruh engkau shalat berjemaah dengan yang hadir, karena beliau sibuk dalam mengurus dirinya yang sedang sakit”

Tatkala Abu Bakar melihat mihrab imam kosong serta Nabi saw tidak hadir, maka tidak tertahan dirinya lalu menangis dan jatuh tersungkur akibat pingsan, maka ributlah kaum Muslimin yang ada , sehingga Rasullullah saw yang mendengar keributan mereka dan bersabda: “Ya Fatimah. Ada apakah jeritan itu dan ada apakah di sana ribut?” Fatimah menjawab: “Keributan di sana itu adalah di antara kaum Muslimin sendiri, kerana engkau tidak ada”

Maka Rasullullah memanggil Ali dan Fadhal bin Abbas yang kemudian beliau bersandar dengan keduanya serta ke Mesjid lalu shalat bersama-sama dengan dua raka’at Fajar di hari Senin tersebut. Selesai shalat beliau berpaling ke belakang kepada orang banyak dan berkata: “Hai Muslimin, kalian semua di dalam pemeliharan dan pertolongan Allah. Oleh sebab itu taqwalah kepada Allah serta taatilah Dia, sesungguhnya saya akan meninggalkan dunia ini dan hari ini hari pertama ku di akhirat dan hari terakhirku di dunia”

Lalu beliau bangkit serta pulang ke rumah. Kemudian Allah Ta’ala memberi perintah kepada Malaikat pencabut nyawa (Malaikat Izrail) : “Turunlah engkau menemui kekasih-Ku dengan sebaik-baik rupa serta lakukanlah dengan halus di dalam mencabut rohnya, kalau dia mengizinkan maka masuklah, dan kalau dia tidak mengizinkan maka janganlah masuk dan pulang lah”

Maka Malaikat maut pun turun dengan menyerupai seperti orang Arab Badui pergunungan seraya mengucapkan:

“Assalamu'alaikum, wahai penghuni rumah kenabian dan sumber risalah, apakah saya boleh masuk?” Fatimah menjawabnya: “Hai hamba Allah sesungguhnya Rasullullah sedang sibuk dengan penderitaan sakitnya.”

Dan Malaikat maut memanggil untuk kedua kali dengan ucapan: “Assalamu'alaikum wahai Rasullullah dan untuk semua penghuni rumah Kenabian”


Akhirnya Rasulullah S.A.W mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu?"

Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil baginda. Saya katakan kepadanya bahwa baginda dalam keadaan sakit. Kemudian dia memanggil sekali lagi dengan pandangan yang tajam."

Rasulullah S.A.W bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?"

Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda. "

Lalu Rasulullah S.A.W menjelaskan: “Dia itu melaikat maut yang memusnahkan semua kenikmatan, yang memutuskan segala nafsu syahwat, yang memisahkan pertemuan, dan menghabiskan semua rumah, serta dia yang meramaikan kuburan.” (Hadits Shaheh)


Mendadak Fathimah menangis keras, lalu berkata: “Aduh! Sungguh kelak akan celaka, karena adanya kematian Nabi yang terakhir. Menjadi musibah besar karena wafatnya untuk orang-orang yang bertaqwa. Mereka terputus dari pemimpinnya yang suci, yang juga merupakan penyesalan bagi kami semua sebab sudah berhentinya wahyu dan langit.
Sesungguhnya saya sudah terhalang tak mendengarkan perkataan engkau, juga tidak lagi mendengarkan salam engkau sesudah hari ini.”

Sabda Rasulullah saw:
“Tabahkan (hatimu) Fathimah, sebab sesungguhnya hanya engkau di antara keluargaku yang pertama berjumpa dengan aku.”

Lalu Rasulullah saw bersabda kepada dia:
“Wahai malaikat maut, masuklah!” 

Malaikat itupun masuk seraya mengucapkan salam: ‘Assalaamu’ alaika, Ya Rasul! 

Rasulullah saw menjawab: ‘Waalaikas-sallaam wahai malaikat maut …, engkau datang untuk berkunjung atau untuk mencabut nyawa!”

”Saya datang untuk berkunjung dan juga mencabut nyawa”, Jawab malaikat maut. “Itu kalau tuan mengizinkan, kalau tidak, saya akan kembali pulang.”

Sabda Rasulullah saw :
”Wahai malaikat maut, di mana engkau meninggalkan malaikat Jibril ?”

”Saya tinggalkan di langit dunia.” Jawab Malaikat Maut. ‘Dan para malaikat di sana baru berbelasungkawa terhadap dia.”

Tidak lama kemudian malaikat Jibril turun. dan duduk tepat di sisi kepala Rasulullah saw,

Rasulullah saw bertanya kepada Jibril :
“Apakah engkau sudah tahu kalau ajalku sudah dekat!”

“Benar, Ya Rasul.” Jawab malaikat Jibril.

“Maka beritakan kepadaku (Rasulllah saw) akan Kemulyaan yang menggembirakan aku di Sisi Allah Ta’ala.”

“Semua pintu-pintu telah terbuka.” Jawab Jibril. “Dan para malaikat sudah berbaris menanti kehadiran Ruh-mu di langit. Pintu-pintu surga telah terbuka, dan bidadari- bidadari sudah bersolek menanti kehadiran Ruh-mu.

Sabda Rasulullah saw:
“Segala Puji bagi Allah wahai Jibril, berilah aku kabar gembira mengenai umatku kelak di hari kiamat.”

”Saya beritahukan …,“ Demikian jawab Jibril. “Bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman:

“Sesungguhnya sudah AKU larang semua Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau memasuki lebih dulu. Dan AKU larang semua umat sebelum umatmu masuk lebih dulu. (Hadist Qudsi)

Sabda Rasulullah saw: ”Sekarang sudah puas hatiku dan hilang pula kesusahanku.” Selanjutnya Beliau bersabda: ”Wahai malaikat maut, mendekatlah kepadaku.”

Malaikat maut pun mendekati Rasulullah saw dan mulailah mencabut ruh beliau.
Ketika sampai diperut Beliau bersabda:
“Wahai malaikat Jibril … alangkah pahitnya rasa sakaratul ini…” 
Dan Jibril memalingkan wajahnya dari pandangan Nabi Saw.

Nabi Saw berkata: ”Jibril … apakah engkau tidak senang melihat wajahku!” 

Jibril menjawab: ”Wahai kekasih Allah … siapa kiranya orang yang sampai hati melihat wajah engkau, dan engkau dalam keadaan sakaratul maut.“

Dari Annas bin Malik ia. ia berkata: ”Ketika ruh Nabi Saw sampai di dada, beliau bersabda: 
”Aku berwasiat kepada kalian, agar kalian memelihara shalat, dan apa-apa yang menjadi tanggungjawabmu …” (Kata Annas ra.) : ”Masih saja beliau, mau mewasiatkan dua perkara ini, sampai perkataannya putus.“ (Hadits Shaheh).

Kata Ali ra.: “Sesungguhnya Rasulullah saw manakala menjelang ajalnya, kedua bibirnya bergerak-gerak dua kali, kemudian saya mendekatkan telinga, saya mendengar beliau mengucapkan perlahan-lahan, ‘Ummatku … ummatku …’. Maka hilanglah ruh Rasululullah saw pada hari Senin Rabiul Awal.

Diriwayatkan ketika Ali ra. membaringkan jasad Rasulullah untuk dimandikan, mendadak ada suara dari salah satu sudut rumah mengatakan: “Jasad Muhammad jangan engkau mandikan, sebab dia sudah suci dan disucikan …“ 

Karena suara itu ada rasa ragu dalam hati Ali. Katanya: “Siapakah engkau sebenarnya, sebab Nabi saw itu sudah berwasiat kepadaku agar aku yang memandikan …”.

Dari arah lain tiba-tiba berseru, “Mandikan dia wahai Ali, sesungguhnya suara tadi suaranya iblis terkutuk karena dengki terhadap Nabi Muhammad. Dia bermaksud agar beliau masuk ke kuburan tanpa dimandikan.

“Semoga Allah membalas kebaikan untukmu, karena engkau memberitahukan bahwa tadi itu suaranya iblis.

Lalu engkau siapa!” Suara itu langsung menjawab: “Saya adalah Nabi Khaidir yang ikut hadir dalam janazah Nabi Muhammad saw.”

Kemudian Ali melanjutkan memandikan jasad Nabi Muhammad, sementara Fadlal bin Abbas dan Usman bin Zaid hagian menuangkan (sesuai dengan wasiat Nabi saw), Jibril pun datang membawa pengawet berupa obat dari surga. Mereka mengkafani dan menguburkan beliau dalam kamar Siti Aisyah pada tengah malam Rabu, ada yang mengatakan malam Selasa.

Setelah ‘Aisyah berdiri dekat kuburan Nabi Saw sambil berkata:
‘Wahai orang yang belum pernah memnakai pakaian sutra, belum pernah tidur di atas ranjang yang empuk; ialah orang yang pergi dari dunia, sementara perutnya belum pernah kenyang oleh roti sekalipun dan gandum yang kasar. Wahai orang yang memilih tidur di atas dedaunan korma dibanding tidur di atas ranjang … wahai orang yang tidak tidur sepanjang malam, hanya karena takut siksa neraka Syair. Seumpama dunia ini kekal bagi semua orang, pasti Rasulullah saw pun akan kekal abadi.”

Allahumma shalli alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad …..
Kisah detik-detik kematian Rasulullah saw terjadi setelah haji Wada’ yang memperoleh wahyu terakhir (lihat Surah Al-Maidah:3). Tapi ada yang mengatakan tidak terakhir, sebab ada ayat lain yang turun sebagai hadits kenabiannya; ada yang mengatakan ayat itu dari Surah Taubah:128-129.

baca selengkapnya »»  

Kamis, 02 Oktober 2014

Keistimewaan hari Arafah

Hari Arafah memang salah satu hari istimewa, karena pada hari itu Allah membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat-Nya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

“Tidak ada satu hari yang lebih banyak Allah memerdekakan hamba dari neraka pada hari itu daripada hari Arafah. Dan sesungguhnya Allah mendekat, kemudian Dia membanggakan mereka (para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah) kepada para malaikat. Dia berfirman, ‘Apa yang dikehendaki oleh mereka ini?‘” (HR. Muslim, no. 1348; dan lainnya dari ‘Aisyah).

Oleh karena itulah, tidak aneh jika kaum muslimin yang tidak wukuf di Arafah disyariatkan berpuasa satu hari Arafah ini dengan janji keutamaan yang sangat besar.

Marilah kita renungkan hadits di bawah ini, yang menjelaskan keutamaan puasa Arafah, yang disyariatkan oleh Ar-Rahman Yang Memiliki sifat rahmat yang luas dan disampaikan oleh Nabi pembawa rahmat kepada seluruh alam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa satu hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya. Puasa hari ‘Asyura’ (tanggal 10 Muharram), aku berharap kepada Allah, Dia akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim, no 1162, dari Abu Qatadah).

Alangkah pemurahnya Allah Ta’ala. Puasa sehari menghapuskan dosa dua tahun! Kaum muslimin biasa berpuasa satu bulan penuh pada bulan Ramadhan, dan mereka sanggup melakukan. Maka, sesungguhnya berpuasa satu hari Arafah ini merupakan perkara yang mudah, bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala.

Barangsiapa membaca atau mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia ini pastilah hatinya tergerak untuk mengamalkan puasa tersebut. Karena, setiap manusia pasti menyadari bahwa dia tidak dapat lepas dari dosa.

Dosa apa yang dihapus?

Apakah dosa-dosa yang dihapuskan itu meliputi semua dosa, dosa kecil dan dosa besar? Atau hanya dosa kecil saja? Dalam masalah ini para ulama berselisih.

Sebagian ulama, termasuk Ibnu Hazm rahimahullah, berpendapat sebagaimana zhahir hadits. Bahwa semua dosa terhapuskan, baik dosa besar, atau dosa kecil.

Namun jumhur ulama, termasuk Imam Ibnu Abdil Barr, Imam Ibnu Rajab, berpendapat bahwa dosa-dosa yang terhapus dengan amal-amal shalih, seperti wudhu’, shalat, shadaqah, puasa, dan lainnya, termasuk puasa Arafah ini, hanyalah dosa-dosa kecil.

Pendapat jumhur ini di dukung dengan berbagai alasan, antara lain:

Allah telah memerintahkan tobat, sehingga hukumnya adalah wajib. Jika dosa-dosa besar terhapus dengan semata-mata amal-amal shalih, berarti taubat tidak dibutuhkan, maka ini merupakan kebatilan secara ijma’.

Nash-nash dari hadits lain yang men-taqyid (mengikat; mensyaratkan) dijauhinya dosa-dosa besar untuk penghapusan dosa dengan amal shalih.

Dosa-dosa besar tidak terhapus kecuali dengan bertobat darinya atau hukuman pada dosa tersebut. Baik hukuman itu ditentukan oleh syariat, yang berupa hudud dan ta’zir atau hukuman dengan takdir Allah, yang berupa musibah, penyakit, dan lainnya.

4- Bahwa di dalam syariat-Nya, Allah tidak menjadikan kaffarah (penebusan dosa) terhadap dosa-dosa besar. Namun, kaffarah itu dijadikan untuk dosa-dosa kecil (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, syarh hadits no. 18, karya al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali).

Puasa Arafah untuk mereka yang di luar Arafah

Kemudian, bahwa disunnahkannya puasa Arafah ini berlaku bagi kaum muslimin yang tidak wuquf di Arafah. Adapun bagi kaum muslimin yang wuquf di Arafah, maka tidak berpuasa, sebagaimana hadits di bawah ini,

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

“Dari Ummul Fadhl binti al-Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Bukhari, no. 1988; Muslim, no. 1123).

Setelah kita mengetahui keutamaan puasa hari Arafah ini, maka yang tersisa adalah pengamalannya. Karena setiap manusia nanti akan ditanya tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan. Semoga Allah selalu memberikan kepada kita untuk berada di atas jalan yang lurus. Amin.

- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/keistimewaan-arafah.html#sthash.e3iKNuCP.dpuf
baca selengkapnya »»  

Jumat, 26 September 2014

Yaumul Jum'ah di sebut Sayyidul Ayyam

Hari Jum'at di sebut juga Sayyidul Ayyam, maksudnya adalah hari Jum'at merupakan hari yang lebih utama di bandingkan dengan hari-hari yang lain. Sayyidul Ayyam bisa bermakna Tuan-nya hari,  Ada 5 hal yang perlu di ketahui oleh umat mu'min di antaranya adalah :
  1. Diciptaknnya Nabi Adam A.s oleh Alloh swt.
  2. Diturunkannya Nabi Adam A.s ke Dunia karena melanggar memakan buat khuldi di Surga
  3. Wafatnya Nabi Adam A.s
  4. Awal kehancuran alam semesta(Kiamat)
  5. Terdapat waktu mustajabah untuk berdoa.

Hari Jum’at adalah hari yang utama dalam sepekan. Pada hari tersebut ada kejadian-kejadian besar, di antaranya adalah terjadinya kiamat.
Juga pada hari tersebut Adam diciptakan, di hari itu pula beliau dimasukkan dalam surga, juga pada hari tersebut beliau dikeluarkan dari surga.

Dari Aus bin ‘Aus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Di hari itu, Adam diciptakan; di hari itu, Adam meninggal; di hari itu, tiupan sangkakala pertama dilaksanakan; di hari itu pula, tiupan kedua dilakukan”
(HR. Abu Daud no. 1047, An Nasai no. 1374, Ibnu Majah no. 1085 dan Ahmad 4: 8. Hadits ini shahih kata Syaikh Al Albani)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari Jum’at Adam diciptakan, pada hari itu dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari Jum’at itu juga dia dikeluarkan dari Surga. Hari Kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at” (HR. Muslim no. 854)

Beberapa faedah dari hadits di atas:

  1. Hadits di atas menyebutkan keistimewaan hari Jum’at dibanding hari-hari lainnya. Hari Jum’at adalah hari terbaik dalam sepekan. Sedangkan hari Arofah adalah hari terbaik dalam setahun.
  2. Dalam hadits di atas tidak semuanya menyebutkan keutamaan hari Jum’at. Mengenai keluarnya Adam dari surga dan terjadinya kiamat tidaklah teranggap sebagai keutamaan hari Jum’at namun menceritakan mengenai perkara besar yang nanti akan terjadi. Demikian penjelasan Al Qodhi ‘Iyadh.
  3. Hadits tersebut menunjukkan bahwa seorang hamba di hari Jum’at hendaklah mempersiapkan diri dengan berbagai amalan sholih supaya mendapatkan rahmat Allah dan tercegah dari murka Allah. Demikian juga penjelasan dari Al Qodhi ‘Iyadh.
  4. Hari kiamat disegerakan sebagai balasan bagi para nabi, shiddiqin, para wali Allah dan selainnya, juga untuk menampakkan karomah dan kemuliaan mereka.

(Dari Syarh Muslim, Imam Nawawi, 6: 142)
Namun kapan tanggal pasti kiamat itu datang, tidak ada yang mengetahuinya
“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al Ahzab: 63)


Di hari Jum'at terdapat waktu mustajabah untuk berdoa
Ada 2 pendapat yang menerangkan waktu kemustajaban untuk berdo'a yang masing-masing mempunyai dasar dan dalilnya.
  • Pendapat pertama waktu mustajab untuk berdo'a di hari Jum'at adalah pada saat khotib duduk setelah khotbah pertama sampai dengan berakhirnya khotbah kedua.
  • Pendapat ke-dua adalah antara waktu asyar sampai dengan magrib.
Semoga do'a-do'a senantiasa di kabulkan oleh Allah SWT. Amien..



baca selengkapnya »»  

Kamis, 17 April 2014

Sabar dan Ikhlas

Apabila kita mendapatkan ujian dari Allah dengan ujian yang menyenangkan seperti diberikan rezeki yang banyak, harta melimpah, banyak uang, rumah bagus, mobil mewah, pada umumnya kita kita bisa lebih sabar.
Tetapi jika kita di uji oleh Allah dengan ujian kesulitan, ujian kehilangan dan atau musibah maka kebanyakan dari kita, akan merasa begitu sulit menerimanya dan sulit untuk bisa sabar.

Ujian kesulitan, ujian kehilangan, kekurangan musibah, penyakit,  kemiskinan, adalah perkara biasa yang dihadapi oleh manusia selama hidup di dunia ini.  Perhatikan firman Allah SWT berikut ini :
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 
"Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah [2] : 155-157).


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 2)



Ketahuilah, sabar akan sangat sulit dilakukan, apabila kita tidak mampu menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, pada hakikatnya hanyalah ujian. Harta yang kita miliki, karir yang bagus, rumah dan mobil mewah yang kita miliki, anak dan keluarga, itu semua adalah ujian dari Allah dan titipan Allah.


Apakah kita bersyukur atau menjadi kufur?
Kita harus memahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah lah pemilik yang sebenar-benarnya atas segala sesuatu apapun yang kita miliki di dunia ini. Dengan menyadari bahwa semua yang kita miliki sebenarnya adalah milik Allah dan titipan Allah, maka begitu Allah mengambilnya dari kita, insya Allah kita akan lebih mudah merelakannya. Karena kita menyadari, bahwa semua itu adalah milik Allah dan titipan Allah.  Dan yang namanya titipan, suatu saat nanti memang pasti akan kembali pada pemiliknya, kapanpun pemiliknya menghendaki apa yang dititipkan kembali atau mau mengambilnya dari kita, maka kita harus dengan rela memberikannya.

Jadi, jangan menjadi stres, terpukul dan merasa kehilangan yang sangat berat, apabila kemarin kita masih punya mobil, sekarang sudah tidak lagi, jangan stres dan bersedih hati apalagi sampai meratapi nasib, apabila bulan kemarin usaha kita masih sukses, sedangkan sekarang kita mengalami kegalalan yang besar.
Karena sesungguhnya dengan adanya musibah, maka seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dari Allah SWT. Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:  
“Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Ketahuilah dan yakinlah, bahwa sesungguhnya dalam setiap cobaan berat yang Allah SWT berikan untuk kita, maka ada hikmah dan pahala yang besar yang menyertainya. Seperti sabda  Rasulullah SAW, “Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).


Rasulullah SAW  bersabda :
“Tiada henti-hentinya cobaan akan menimpa orang mukmin dan mukminat, baik mengenai dirinya, anaknya, atau hartanya sehingga ia kelak menghadap Allah SWT dalam keadan telah bersih dari dosa (HR. Tirmidzi).


Rasulullah SAW bersabda, 

“Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).


Kita harus rela menerima segala  ketentuan  Allah  dan menyadari bahwa apapun yang terjadi, sudah ditetapkan Allah SWT dalam Lauhul Mahfuzh. Kita wajib menerima segala ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan. Allah SWT berfirman :

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Hadid [57] : 22)


Apabila kita ditimpa musibah baik besar maupun kecil, sebaiknya kita mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah kami kembali), ini dinamakan dengan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah SWT). Kalimat istirja’ akan lebih sempurna lagi jika ditambah, setelahnya dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW  sebagai berikut :

“Ya Allah, berilah ganjaran atas musibah yang menimpaku dan gantilah musibah itu yang lebih baik bagiku.”  Barangsiapa yang membaca kalimat istirja’ dan berdo’a dengan doa di atas niscaya Allah SWT akan menggantikan musibah yang menimpanya dengan sesuatu yang lebih baik. (Hadits riwayat Al Imam Muslim 3/918 dari shahabiyah Ummu Salamah.)


Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini :

“Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Setiap amalan akan diketahui pahalanya kecuali kesabaran, karena pahala kesabaran itu, tanpa batas. Sebagaimana firman Allah SWT  “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan ganjaran/pahala  mereka tanpa batas.” (Az Zumar: 10)
baca selengkapnya »»  

Jumat, 07 Februari 2014

Laporan Kas Lazwaf per 31 Januari 2014

Assalamu'alaikum wr. wb.

Berikut adalah laporan keuangan Lazwaf per 31 Januari 2014, terimakasih kepada jamaah sekalian, semoga Allah akan membalasanya dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin..


baca selengkapnya »»  

Kamis, 16 Januari 2014

Kultwit Ust @HartantoSaryono Tentang Hidayah


# HIDAYAH
1. Istiqamah (tetap berada di jalan yg lurus) & tsabat (teguh) di jalan kebenaran itu tidak mudah.
2. Betapa banyak org yg sudah berhijab, kemudian buka hijab. Org yg sdh rajin shalat, kembali meninggalkan. Bahkan ada yg murtad!
3. Mungkin krn beratnya istiqamah & tsabat itu RasuluLlah selalu berdoa memohon spy diteguhkan dlm agama ini di sujud2 beliau.
4. Doa RasuluLlah: ALlaahumma yaa Muqallibal-quluubi tsabbit qalbii 'alaa diinik.
5. "Ya ALlah, Yang membolak balik hati, teguhkan hatiku di atas (jalan) agama-Mu." RasuluLlah saja berdoa demikian.
6. Dlm surat Al-Fatihah yg kita ulang2, kita jg memohon kpd ALlah agar selalu Dia tunjuki kita jalan yg lurus.
7. Kita selalu mengucapkan: Ihdinash-shiraathal-mustaqiim. "Tunjukilah kami jalan yg lurus."
8. Knp redaksinya bukan:. Ihdinaa ilaash-shiraathil mustaqiim? "Tunjuki kami ke jalan yg lurus".
9. Bukan jg: Ihdinaa lish-shiraathil mustaqiim? "Tunjuki kami kpd jalan yg lurus."
10. Redaksi: اهدنا إلى الصراط المستقيم & اهدنا للصراط المستقيم Menunjukkan bhw si pemohon ("kami") tdk berada di jalan yg lurus
11. Krn tdk berada di jln yg lurus, maka ia memohon spy ditunjuki ke jln yg lurus & dikenalkan dg jalan yg lurus (Islam).
12. Redaksi surat Al-Fatihah: 6 tanpa kata "ilaa" atau "li" (ke/kpd):. "Tunjuki kami jalan yg lurus."
13. Redaksi ayat surat Al-Fatihah tsb menunjukkan bhw si pemohon sdh ada di jln yg lurus & blh jd blm berada di jln yg lurus.
14. Bagi org yg sdh di jln yg lurus (Islam) bermakna permohonan agar diteguhkan di jln tsb. Krn tdk ada yg aman dr cobaan & ujian.
15. Org yg sdh di jln yg lurus jg mhn agar diberi pemahaman ttg jln tsb & dipahamkan dg tujuan akhir perjalanan.
16. Maka, saat mengucapkan "ihdinash-shiraathal-mustaqiim" artinya kita memohon agar diteguhkan di jln ini. 
baca selengkapnya »»